Minggu, 30 Agustus 2009

berani mimpi

BERANI MIMIPI

Alkisah,di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari,satu-satunya guru yang ada di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita,si guru memberikan pekerjan rumah."Anak-anak pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok,hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu per satu..."

Keesokan harinya,murid-murid maju ke depan kelas dan membaca karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru,petani,atau pegawai pemerintahan,dll. Sang guru mangut-mangut tanda setuju. Lalu,tiba giliran seorang murid yang paling muda usianya. Bajunya tambal sulam,tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. "Kalau besar nanti,aku ingin punya rumah besar di atas bukit,dengan pemandangan yang indah,berdampingan dengan pondok-pomdok kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. berderet pohon cemara dan pohon-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu. Ada taman bunga tertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa di petik oleh penghuni rumah dan penduduk di sekitarnya. saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersaman dengan keluarga besar dan para tamu yang datang di sana..."

Mendengar suara lantang si murid kecil itu,kontan seisi kelas tertawa bersamaan. "Dasar pemimpi...!" ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegduhan itu,si guru jadi marah. Ia menganggap,biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, "yang kamu tulis itu bukan cita-cita,tapi impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya,"perintah sang guru.
"guru,ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi,ini bisa menjadi kenyataan," si murid kecil bersikeras.
"Heh...kamu hidup di desa miskin,keluargamu juga miskin seperti itu? Dasar pemimpi...! Buat karangan yang masuk akal saja!" teriak si guru mulai tidak sabar.
"Aku tidak mau cita-cita yang lain. Ini cita-citaku tidak ada yang lain....," si murid kecil ngotot
"Besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika tidak kamu perbaiki karanganmu itu,kamu akan mendapat nilai jelek,"si guru mulai mengancam. Namun keesokan harinya,si murid kecil ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau di ancam dan di permalukan seperti itu dia tetap pada cita-citanya semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru,akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari,ia meqngajak murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sngat terkenal. Kebun buah itu berada di desa tetangga,tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan itu,si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebun buah itu ternyata di lengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, di kelilingi pohon yang rindang nan sejuk. yang lebih mengagumkan,di dekatnya terdapat sebuah rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, megah,dan sangat indah arsitekturnya.

"Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat...Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini...," gumam si guru terkagum-kagum. Tiba-tiba terdengar jawaban. "Bukan orang hebat yang membangun rumah ini...hanya seorang murid bandel yang berani mimpi punya cita-cita besar. Pasti, yanglebih hebat adalah guru yang dulu mendidik bocah bandel itu...Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun ini...," ujar si pemilik rumah itu dengan ramah.

Mendengar ucapan itu,mendadak si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil miskin,pendidikan rendah,kerja sebagai karyawan toko dan salesman,tidak punya pengalaman ,tapi bercita-cita jadi bintaqng film di luar negeri.
Bukanlah itu hal yang tidak wajar menurut latar belakang saya? Banyak nada cemoohan dan kesngsian setiap kali orng mendengar impian saya itu. Sebagian sahabat tidak percayadengan kemampuan saya dan menganggap angan-angan saya itu terlalu tinggi. Sebagian lagi khawatir kalau keinginan saya itu bakal tidak tercapai. Mereka kasihan melihat saya akan kecewa atau frustasi. Namun akhirnya, dengantekad membaja dan perjuangan keras,saya toh mampu mewujudkan mimipi menjadi bintang film Hong Kong
Cemoohan atau kesangsian orang lain terhadap cita-cita yang tinggi sebenarnya juga selalu di hadapi oleh orang-orang besar di dunia ini. Tetapi orang-orang besar tidak pernah berhenti hanya karena ejekan atau kesangsian orang banyak atas impian-impian besarnya. Karena, bagi orang-orang besar yang bermental kaya,ejekan dan cemoohan adalah vitamin gratis yang justru mereka perlukan sebagai cambuk dan pemicu untuk berusaha lebih keras lagi.
Sebab itu, jika ada orang yang mengejek atau mencemooh mimipi kita, jangan pernah berkecil hati. Hanya satu jawabannya kluatkan tekad dan semangat,lalu berjuang dengan sekuat tenaga,dan buktikan bahwa kita mampu dan berhaqk untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidup kita.